My First Trip to Japan

Nggak nyangka banget tahun lalu bisa ke Jepang. Dengan persiapan yang mepet, kami pergi ke Jepang selama lima hari. Kurang banget rasanya ke Jepang cuma sebentar, yah siapa tahu nanti kami bisa kesana lagi. 

Selama lima hari, kami mengunjungi beberapa tempat yang touristy dan ternyata kesana pas peak season. Rame banget. Tapi ya gapapa, namanya juga liburan. 

Hari 1

Check in Hotel

Kami sampai di Tokyo Haneda Airport sekitar pukul sembilan. Kemudian kami menggunakan airport limousine menuju stasiun Tokyo. Tapi, limousine yang dimaksud disini adalah Bus. Semacam bus Damri di Indonesia. Tiketnya terjangkau, sekitar seratus lima puluh ribu jika dirupiahkan.

 Nyobain makanan di convenience store Jepang

Nyobain makanan di convenience store Jepang

Kemudian, kami check in di Hotel di daerah Hatchobori. Enaknya hotel ini, setiap malam para tamu yang menginap dapat menikmati soba panas gratis! Selain itu, ada shuttle antar hotel dan stasiun Tokyo (gratis juga). Ada pemandian air panas di hotel ini, tapi saya nggak nyobain karena peraturan untuk masuk ke pemandian air panas adalah tidak memakai baju sama sekali. Alasannya adalah menjaga kebersihan air di pemandian. 

ACS_0134.JPG

Di Jepang, kami baru bisa check in hotel mulai jam 3 sore dan mereka strict banget masalah waktu. Nggak kaya waktu saya ke Singapore, harusnya bisa check in jam 2 siang tapi jam 12 udah boleh masuk. Karena kami datang pagi, jadi kami jalan-jalan keliling di sekitar hotel. Karena lapar, kami memutuskan untuk membeli makanan. Karena bingung mau makan apa, akhirnya kami beli makanan di Family Mart. Menu makanan di Family Mart adalah bento dan comfort food ala Jepang lainnya. Harganya sekitar 30ribuan rupiah. Lumayan mahal jika dirupiahkan, karena family mart itu setara Indomaret atau Alfamart di Indonesia.

Ginza

Selanjutnya, kami memutuskan untuk jalan-jalan di daerah Ginza. Daerah Ginza adalah daerah pertokoan elite yang berisi brand-brand terkenal seperti Chanel, Gucci, Fendi, dan semacamnya. I used to love those brands.. But not anymore. I prefer ethical dan sustainable fashion.

 Best waffles in Ginza. Sebelum vegan.

Best waffles in Ginza. Sebelum vegan.

Saat di Ginza, kami mengunjungi toko alat lukis & stationery bernama Itoya. Semacam surga bagi saya. Itoya menjual peralatan lengkap dan harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan Indonesia (untuk alat lukis). Ternyata Itoya adalah toko stationery berumur seratus tahun lebih loh. Jika kamu suka banget sama stationery & art, kamu wajib ke Itoya saat ke Jepang.

Saya suka dengan kebersihan di Jepang. Rasanya aman jika harus jalan kaki disana. Trotoar bersih dan rapi. Pada malam harinya, kami makan di Ippudo. Sebenarnya di Jakarta ada juga Ippudo, tapi karena udah kelaparan dan udah pada banyak yang tutup tapi Ippudo masih buka. Jika di Jakarta restoran Ippudo berada di mall high-end, Ippudo di Jepang adalah tempat makan yang tidak terlalu luas. Beda banget sama Ippudo Jakarta. Nuansa Ippudo Jepang lebih down to earth seperti warung.

 Entah kenapa orang Jepang suka banget sama es teh

Entah kenapa orang Jepang suka banget sama es teh

Hari 2

Tokyo Skytree

Pada hari kedua, kami jalan-jalan keliling Tokyo. Dimulai dengan mengunjungi Tokyo Skytree. Ternyata Tokyo Skytree adalah menara tertinggi di dunia. Antriannya cukup panjang tapi waktu menununggunya sebentar saja.

Di dalam Tokyo Skytree, ada tiga bagian yang bisa dikunjungi. Saya memilih untuk mengunjungi Tembo Deck dan Tembo Gallery. Pada bagian Tembo Gallery terdapat Sorakara Point, titik tertinggi yang bisa dijangkau di Tokyo Skytree (451.2 m dpl).

Asakusa

Setelah itu, kami menuju daerah Asakusa untuk membeli oleh-oleh dan duduk-duduk di Asakusa Temple. Asakusa ini semacam daerah Malioboro tapi jauh lebih rapi dan teratur. Saat di Asakusa, saya menemukan tukang becak di Jepang, entah sebutannya apa, yang menarik gerobak tapi ada penumpangnya. Dan mas-mas tukang becaknya kekar banget. Semangat banget bang buat nariknya.

 Before vegan. At McDonald's Asakusa, with bacon and cheese.

Before vegan. At McDonald's Asakusa, with bacon and cheese.

Shinjuku

Selanjutnya, kami mengunjungi daerah Shinjuku. Shinjuku lebih cocok untuk anak muda. Isinya pertokoan yang lebih ramah di kantong (nggak juga sih) daripada Ginza. Cocok buat kamu yang suka shopping. Ohya, rata-rata toko di Jepang tutup jam 8 malam (kecuali toko besar seperti Adidas, Uniqlo, dan BIC Camera), dan buka jam 10 atau jam 11. Jadi kalo mau shopping, mendingan browsing dulu mau beli apa aja di toko mana daripada kamu menghabiskan waktu untuk mencari jalan yang nggak jelas mau kemana. 

Hari 3

Di hari ketiga, kami pergi ke Kyoto untuk melihat tempat pariwisata yang ternyata hanya sempat ke beberapa tempat karena rame banget. Untuk cerita naik Shinkansen ke Kyoto, bisa dibaca disini. 

Setelah balik ke Tokyo dari Kyoto, kami menuju Ginza untuk membeli titipan. 

Hari 4

Pada hari keempat, kami mengunjungi Hakone-Fuji-Gotemba. Kami menggunakan paket tur dari HIS. Jadi kami rame-rame bersama orang lain naik bus kesana. Ada banyak orang Indonesia di tur ini. 

Titik keberangkatan dari Shinjuku. Kemudian kami naik bus rame-rame ke Hakone. Supir busnya perempuan loh. Selama perjalanan, kami sempat berhenti sekali di rest area. Toiletnya bersih bangetttttttttt. Nah, kebetulan saya dapet toilet ala Jepang yang seperti ini 

 Photo: matcha-jp.com/

Photo: matcha-jp.com/

Toilet jaman jadul, ya sama sih di Indonesia juga ada toilet jongkok gitu. Lucunya toilet di rest area ini, saat pipis ada suara gemericik air kenceng banget dari sound system. Kirain suara gemericik pipis sendiri, tapi syukurlah bukan karena itu suara untuk menutupi suara gemericik pipis (mungkin). Kurang paham juga sih kenapa toiletnya begitu.

Perjalanan ke Hakone ditempuh sekitar dua jam (seinget saya). Pemandangan sepanjang perjalan pun bagus sekali, karena di Indonesia nggak ada beginian jadi kagum banget lah. Bersih, rapi, teratur. Tiga kata paling tepat untuk menggambarkan kondisi di Jepang.

Akhirnya sampai di Hakone. Hakone adalah danau di daerah pegunungan. Dingin banget deh pokoknya disini. Udah di pegunungan, mainnya ke air-air gini, anginnya kenceng. Badan menggigil. Kemudian, kami diiring menuju kapal bajak laut ala-ala jaman dahulu kala. Rutenya adalah menyebrang ke pelabuhan sebrang. Di danau itu ada dua pelabuhan. Kurang lebih seperti Danau Toba kalo di Indonesia, bedanya lebih dingin, anginnya lebih kenceng danau toba sih menurutku, dan pemandangannya. Karena kami kesana di saat musim gugur, pemandangan yang bisa dilihat adalah daun-daun yang mulai memerah. Bagus sekaliiiiii.

Selanjutnya kami makan siang di all you can eat buffet. Oya, disini menunya menggunakan babi jadi agak ribet untuk yg tidak makan babi. Saya makan ini sebelum saya menjadi vegan. Syukurlah :D 

Setelah makan siang babi sepuasnya, kami melanjutkan perjalanan ke Gotemba 5th Station. Gotemba 5th Station adalah tempat untuk melihat Gunung Fuji dari dekat. Dan kok apes banget ya, pas sampai sana Gunung Fujinya ketutupan awan. Kalo dingin udah nggak usah ditanya lagi deh. Dingin banget.

Lokasi terakhir dari tur ini adalah ke Gotemba Premium Outlet. Semacam FO kalo di Indonesia tapi isinya Tory Burch, Stella McCartney, Boss, Bally, dan kawan-kawan. Kalo emang doyan shopping (dan punya uang), mending belanja disini karena disini murah banget untuk ukuran branded. Save your money for the best... 

Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama karena ada perbaikan jalan di tol. Yang unik di Jepang adalah orang-orangnya. Mereka sopan banget, dikit-dikit minta maaf, masa waktu di tol, tukangnya ada yang menundukan badan untuk minta maaf karena bikin macet. Coba di Indonesia, masa bodoh kan ya....

Hari 5

ACS_0133.JPG

Sedih banget harus balik Indonesia. Kami berangkat dan pulang melalui bandara Haneda. Kalo mau shopping oleh-oleh disini ada Duty Free Shop gitu. Saran saya, sediakan waktu yang lumayan banyak karena antrian di Duty Free Shop ini panjang banget. 

Sekian perjalanan saya saat di Jepang. Semoga bermanfaat! 


Tips:

  • Toko-toko di Jepang rata-rata tutup jam delapan malam. Hanya beberapa toko besar saja yang buka sampai jam sepuluh malam. Contohnya: Adidas di Shinjuku.
  • Banyak sekali jalur kereta di Jepang, pelajari cara membaca peta dan jangan malu untuk bertanya kepada petugas di stasiun karena mereka akan dengan senang hati membantumu meskipun banyak yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris.
  • Selama di Jepang, saya menggunakan modem sewaan dari HIS karena perginya rame-rame. Bisa diambil di kantor HIS Indonesia.