A Day in Kyoto

 Pengalaman pertama ke Jepang, tanpa tour guide.

Susah nggak sih jalan-jalan ke negeri orang yang jarang bisa bahasa inggris?

Lumayan susah. Apalagi sistem kereta api di Jepang sangat rumit dibandingkan Singapore atau Jakarta. Jalur kereta di Jepang sangat banyak dan minimal harus mengerti mau naik kereta yang mana.

Saat di Jepang, saya menyempatkan ke Kyoto. Sebelumnya udah browsing dan ternyata banyak tempat menarik yang dikunjungi di Kyoto. Tapi, karena waktunya hanya terbatas sehari, jadi tempat yang saya kunjungi di Kyoto sedikit sekali.

And here's my story during my short trip to Kyoto.


Shinkansen

Pada trip pertama saya ke Jepang, saya sempatkan untuk mengunjungi Kyoto. Setelah browsing, ternyata banyak banget tempat di Tokyo yang bagus untuk dikunjungi. Karena udah beli JR Pass yang harganya lumayan mahal, kami menggunakan Shinkansen menuju Kyoto. Tips buat yang pertama kali naik Shinkansen menggunakan JR Pass: Kamu bisa melakukan reservasi kursi di Shinkansen menggunakan JR Pass supaya kamu nggak perlu berdiri di Shinkansen! Dan ada loh yang berdiri di Shinkansen.

Shinkansen yang saya naiki adalah jenis Hikari, katanya sih ini kereta shinkansen tercepat kedua di Jepang. Keretanya bersih banget, dan toiletnya keren banget. Udah mirip toilet di hotel yang punya banyak tombol. Di kereta juga ada tempat colokan jadi jangan khawatir untuk kehabisan baterai.

Saat di dalam kereta menuju Kyoto, sebelah saya duduklah seorang nenek bersama saudaranya. Dan nenek ini mengajak ngomong saya menggunakan bahasa Jepang. Alhasil, saya dan nenek tersebut ngobrol menggunakan bahasa isyarat plus google translate. Nenek tersebut juga menunjukan rumahnya yang deket banget sama gunung Fuji. Sambil menunjukan foto-foto rumahnya, nenek ini juga mengajarkan beberapa kata dalam bahasa Jepang seperti: hana (bunga), kumo (laba-laba). Nenek, bahaya banget nunjukin foto-foto rumah ke orang asing. But it's fine. It's not Jakarta.

Nozomi Shinkansen. The fastest Shinkansen.

Nozomi Shinkansen. The fastest Shinkansen.


Kyoto Station

Sampai di Kyoto Station, saya agak kaget karena stasiun ini rame banget. Baru kali ini saya melihat stasiun penuh dengan manusia. Saya juga sempat bingung mencari jalur yang digunakan untuk melanjutkan perjalanan menuju Inari Station karena saya ingin ke Fushimi Inari Shrine. Dan akhirnya saya menemukan Nara Line setelah tanya ke beberapa orang.


Fushimi Inari Shrine 

Letak Fushimi Inari Shrine ini pas di depan stasiun. Sayangnya, ketika kami sampai sana ternyata rame dan agak hangat (karena ada banyak orang). Disini, ada banyak banget gapura torii (yang warnanya vermilion, tapi ada juga yang udah pudar). Saya menganggap bahwa ini adalah tempat suci bagi orang Jepang, tapi sayangnya ada beberapa orang yang tidak peka dengan menggunakan pakaian yang sedikit kurang sopan kesini (hotpants & tank tops!). 

ACS_0049.JPG

Fushimi Inari Shrine

Kyoto, Japan


Nijo Castle

Setelah dari Fushimi Inari, kami menuju Nijo Castle menggunakan kereta dan menyempatkan untuk makan siang di stasiun. Sebenarnya saya ingin ke Arashiyama tapi berhubung waktunya hanya sebentar, saya memutuskan untuk pergi ke Nijo Castle. Karena kami sudah memesan tiket balik Shinkansen sore, kami menggunakan taksi menuju Nijo Castle & pak supir bilang Nijo Castle itu dekat dari stasiun (tapi pak, nggak cukup waktunya). Melihat Nijo Castle dari luar saya udah membayangkan isinya bagus banget. Sampai di depan Nijo Castle, ada tiket box. Saya segera menuju tiket box dan ternyata antrian panjaaaaaaaang banget. Pesimis dengan antrian yang sangat panjang, saya hanya foto di depan Nijo Castle lalu balik ke Kyoto Station menggunakan taksi.


Jika saya bisa ke Jepang lagi, saya WAJIB menginap di Kyoto & mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat saya kunjungi. Sesampai di Tokyo, kepala saya pusing sekali. Mungkin efek naik Shinkansen karena yang lain juga sakit kepala. Secara keseluruhan, Kyoto adalah kota yang bagus dengan banyak objek bersejarah. Hopefully, I could go back to Japan once more (with him)!