Journey to Minimalist Wardrobe

IMG_9817.JPG

Membuka lemari dan kemudian “Nggak ada yang bisa dipakai.”

Pasti banyak yang sering mengalami hal tersebut. Kita merasa bahwa tidak ada yang bisa dipakai, akhirnya beli baju baru lagi, dan tetap tidak ada yang bisa dipakai, beli baju baru, dan seterusnya.

Lalu musim sale dimana-mana karena pergantian musim, akhirnya beli baju lagi yang penting “branded” dan lagi sale. Meskipun tidak tahu mau dipakai kapan. Semakin banyak pakaian yang tidak pernah dipakai dan semakin bingung mau pakai apa.

Hal tersebut terjadi karena kita tidak mengetahui style apa yang cocok dengan kita. Tak jarang kita membeli pakaian tanpa mempertimbangkan apakah pakaian tersebut cocok ketika dipakai dengan pakaian yang lain, atau apakah sesuai dengan gaya hidup kita.

Kebiasan shopping tanpa berpikir panjang memberikan banyak efek negatif baik untuk diri sendiri maupun lingkungan. Banyak uang yang seharusnya bisa kita tabung untuk masa depan, orang tua, atau orang lain daripada belanja pakaian dengan embel-embel lagi ngetren (padahal tren cepat sekali berubah, thanks to fast fashion). Sedangkan efek negatif terhadap lingkungan dari industri fashion adalah polusi yang dihasilkan dari limbah, air yang digunakan untuk membuat pakaian, dan tumpukan sampah pakaian yang tidak layak pakai. Belum lagi biaya pekerja, banyak pekerja tekstil yang diupahi sangat kurang dengan jam kerja yang sangat lama dan kondisi lingkungan kerja yang tidak manusiawi, terkadang juga ada yang memperkerjakan anak di bawah umur.

Tragedi runtuhnya Rana Plaza, sebuah pabrik baju di Bangladesh yang menewaskan banyak orang. Photo By rijans - Flickr: Dhaka Savar Building Collapse, CC BY-SA 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=26051590

Tragedi runtuhnya Rana Plaza, sebuah pabrik baju di Bangladesh yang menewaskan banyak orang. Photo By rijans - Flickr: Dhaka Savar Building Collapse, CC BY-SA 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=26051590

Kita bisa menghentikan semua itu dengan belanja secara bijak. Belanja dengan bijak berarti kita mengetahui dengan betul apa yang benar-benar kita butuhkan. Belanja saat sale sah-sah saja namun jika tidak membutuhkannya, yang ada malah membuang-buang uang.

MOST PEOPLE ONLY WEAR 20% OF THEIR CLOTHES

Photo by: Tim Mitchell and Lucy Norris

Photo by: Tim Mitchell and Lucy Norris

Baju adalah salah satu barang yang paling sering kita beli, meskipun kita sudah memiliki jumlah baju sebanyak apapun kita selalu merasa kita membutuhkan baju baru. Berdasarkan dari permasalahan ini, saya mencoba untuk mengadaptasi “minimalist wardrobe”.

Minimalist wardrobe disini bukan berarti pakaian hanya terdiri dari warna hitam, putih, atau abu-abu. Minimalist wardrobe menurut saya adalah dimana lemari berisi pakaian yang benar-benar kita sukai, cocok, dan akan selalu kita pakai. Minimalist wardrobe tidak dibatasi dengan jumlah pakaian spesifik, misalnya hanya 10 atau 20. Kebutuhan minimalist wardrobe setiap orang berbeda, menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jika minimalist wardrobe kamu berisi seribu pakaian, boleh saja karena kamu sudah yakin seribu pakaian tersebut adalah yang kamu sukai, cocok, dan selalu dipakai.

Clothes can bring you down when they don’t make you feel like yourself

Daripada kamu selalu bingung mau pakai apa, cobalah untuk menentukan “minimalist wardrobe” versimu dengan langkah-langkah berikut:

IMG_9814.JPG

1. Define your lifestyle

Sebelum melakukan closet detox, coba tentukan gaya hidup yang cocok dengan kamu. Bikin daftar kegiatan yang kamu lakukan selama dua minggu.

Contoh:

  • Kerja 10 hari

  • Olahraga 6 hari

  • Hangout 2 hari

  • Santai di rumah 2 hari

Setelah itu, kamu bisa membandingkan apakah jenis & jumlah baju yang kamu punya sudah sesuai dengan kebutuhanmu. Jika jumlah baju hangout ternyata lebih banyak dibandingkan dengan baju kerjamu padahal jumlah jam hangout lebih sedikit maka dari itu akan lebih baik jika kamu mengurangi jumlah baju hangout yang tidak pernah terpakai.

2. Discover your style

Are you happy with your current closet?

Jika jawabanmu tidak, berarti kamu belum menemukan gaya yang sesuai. Menemukan gaya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Gaya yang sesuai dengan kepribadian harus menyesuaikan dengan gaya hidup. Misalnya, pakaian kita sebelum punya anak dan setelah punya anak mungkin berbeda karena harus menyesuaikan kenyamanan kita atau lebih tepatnya harus sesuai dengan kehidupan kita.

Untuk menemukan gaya yang cocok untuk kita, jangan terpaku pada tipe gaya yang sudah ada, misalnya bohemian, androgini, atau semacamnya. Ciptakan gayamu sendiri tanpa terpaku pada tipe yang sudah ada. Beberapa elemen yang harus dipertimbangkan untuk menentukan gaya kita adalah lifestyle, warna, tekstur dan juga pola.

Coba untuk mengalokasikan waktu di saat kamu tidak ada kesibukan untuk mengeksplor gaya kamu melalui blog, majalah, atau sumber lain. Simpan gambar yang cocok denganmu sebagai referensi. Coba baju sebanyak mungkin saat ke toko baju dan kamu bisa menemukan estetika yang sesuai dengan gaya hidup dan kepribadianmu.

Untuk pemilihan warna, kamu bisa membuat color palette. Komposisi warna dalam color palette terdiri dari enam hingga dua belas warna. Color palette juga terdiri dari warna utama dan warna tambahan sebagai aksen. Feel free to choose what’s best for you!

“Baju yang aku suka tidak cocok dengan bentuk tubuhku…”

Banyak teori tentang baju tertentu hanya cocok pada bentuk tubuh tertentu. Memang betul, sebagian jenis baju memilki potongan yang bisa membuatmu ‘terlihat’ lebih berisi atau tidak. Namun, jika baju tersebut terasa nyaman dan sparks joy untukmu, sah sah aja dipakai. Meskipun menurut orang lain baju tersebut bilang tidak cocok dipakai. But, haters gonna hate and always remember that you dress up for yourself not those people. Tujuan kita berpakaian adalah untuk merasa nyaman, bukan untuk terlihat kurus. Be confident with anything you wear, and your beauty will shine itself.

3. Closet Detox

Setelah menemukan style yang cocok sesuai dengan kepribadianmu dan lifestyle, kamu bisa memulai untuk closet detox. Ada beberapa cara untuk melakukan closet detox. Sejauh ini saya suka dengan cara konmari. Metode konmari sangatlah mudah, cukup dengan menyimpan barang-barang yang menurut kamu ‘sparks joy’. Lalu bagaimana dengan baju yang tidak sparks joy?

Ada beberapa cara untuk mengolah pakaian yang tidak sparks joy, yaitu: didonasikan, dijual, recycle, upcycle atau dibuang. Sangat disarankan untuk didonasikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Jika harus dibuang, buanglah ke tempat yang sekiranya memiliki pengelolaan sampah yang baik. Jangan sampai pakaian yang kamu buang malah merusak lingkungan. Be responsible with your own trash!

Saat melakukan closet detox, mungkin ada beberapa pakaian yang sebenarnya sayang untuk dibuang namun jarang dipakai. Solusinya adalah simpan dulu namun tidak di lemari pakaianmu. Taruh pakaian-pakaian yang jarang dipakai namun sayang untuk dibuang dalam sebuah kotak. Jika dalam tiga puluh hari kamu tidak pernah membuka kotak tersebut, kamu harus merelakan pakaian-pakaian tersebut.

4. Capsule Wardrobe

Sekarang kamu sudah tau gaya hidupmu seperti apa, baju apa yang kamu butuhkan, gaya apa yang cocok dengan kamu, dan lemarimu berisi pakaian yang hanya kamu suka.

Waktunya challenge!

Pernah dengar istilah capsule wardrobe? Jika belum, capsule wardrobe adalah sebuah koleksi pakaian dengan jumlah 20-40 pakaian dari lemari yang akan dipakai selama waktu tertentu, misalnya 10 hari, 30 hari, atau 3 bulan. Jumlah pakaian tersebut terdiri dari atasan, bawahan, dress, outerwear, dan sepatu namun tidak termasuk baju tidur, pakaian dalam, aksesoris, perhiasan atau baju olahraga. Untuk memudahkan capsule wardrobe, saya menggunakan aplikasi cladwell (it’s not a free app but for me it’s worth it).

Meskipun kamu sudah mengikuti langkah 1, 2, 3 di atas, butuh waktu yang lama untuk mengetahui pakaian apa yang cocok dengan kita. Tidak jarang kita membeli pakaian baru namun akan kembali berujung pada pakaian lama kita. Kita juga pernah membuka lemari pakaian dan merasa bahwa tidak ada yang bisa dipakai. Capsule wardrobe memiliki tujuan untuk membantu kita mewujudkan lemari yang berisikan dengan pakaian yang benar-benar kita SUKA.

Mungkin kita sering merasa iri ketika melihat di tv atau vlog yang memamerkan wardrobe closet luas dan besar berisi barang-barang branded. Memang hal tersebut terlihat sangat keren, namun sebenarnya kita bisa bahagia dengan jumlah barang-barang yang lebih sedikit.

Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari capsule wardrobe. Lebih banyak uang yang bisa ditabung, lebih sedikit waktu untuk memilih baju karena lemari berisi pakaian yang kita suka, lebih sedikit usaha yang dilakukan untuk laundry, lebih sedikit waktu untuk shopping, lebih sedikit uang yang terbuang sia-sia untuk pakaian yang tidak pernah dipakai. Akan lebih banyak uang, waktu, dan energi yang bisa kita gunakan untuk keperluan lain atau membantu orang lain.

“Ya tapi kan saya suka shopping.”

Shopping is not a bad thing. The bad thing is that we shop things we actually will never use/wear.

Ketika saya mencoba capsule wardrobe, ada beberapa ketakutan yang muncul, seperti bosan dengan pakaian itu-itu saja, Namun saat menjalankannya, saya merasa lebih nyaman dan tenang karena tidak terlalu memikirkan pakaian apa yang harus dipakai besok.

Bagaimana? Mau nyobain Capsule Wardrobe? Selamat mencoba dan semoga berhasil!