Closet Detox Day

Sebelum liburan tiba, saya menyempatkan untuk melakukan sedikit closet detox. Sebenarnya tidak hanya closet, tapi seluruh barang yang ada di kamar saya. Yang memicu saya untuk melakukan closet detox adalah ketika saya membaca buku Marie Kondo yang berjudul Spark Joy, Marie Kondo memberikan teknik yang tepat bagaimana caranya merapikan barang-barang yang ada di rumah. 

Ternyata merapikan barang-barang itu sangat mudah ketika kita mengetahui bagaimana cara melakukannya (thanks to Marie Kondo!). Nah, disini saya akan membagikan pengalaman saya ketika bersih-bersih kamar. Pertama, saya memulai dari pakaian (termasuk sepatu dan tas). Semua pakaian yang saya punya, saya kumpulkan menjadi satu tumpukan. Kemudian, saya pilah menjadi beberapa bagian: simpan, donasi, atau buang. Setelah itu, saya lipat pakaian saya serapi mungkin menggunakan teknik melipat konmari yang saya modifikasi sendiri. Karena teknik konmari membutuhkan lemari berlaci banyak, sedangkan lemari punya saya tipe standar. 

Selain pakaian, saya juga melakukan detox terhadap tas dan sepatu. Ternyata, selama dua tahun di Jakarta, saya telah membeli empat belas sepatu! Dan yang paling saya sering gunakan mungkin hanya sekitar lima sepatu. Ada beberapa sepatu yang akhirnya saya berikan kepada teman saya dan tetangga saya. Sama halnya dengan tas. Namun ada beberapa sepatu yang akan saya jual secara online. 

Selesai closet detox, saya malah ketagihan untuk detox semua barang di kamar saya. Kadang saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri. Hal ini disebabkan oleh banyaknya barang yang ternyata tidak pernah dipakai sama sekali. Jika barang-barang yang tidak pernah/jarang saya pakai diuangkan, mungkin uangnya bisa buat beli barang lain, seperti PS4 (lagi pengen banget punya ini). Oleh karena itu, saya mulai mengedukasi diri saya sendiri untuk lebih picky ketika belanja. Saat ini, saya sedang belajar tentang dunia fashion. Namun bukan dari segi estetika, tapi lebih pada kualitas dari pakaian.

Lalu bagaimana nasib pakaian yang tidak akan dipakai lagi?

Saat closet detox, saya membagi 3 bagian seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Dari tumpukan pakaian yang dilabeli 'donate', saya donasikan baju saya kepada pembantu tempat tinggal saya di Jakarta. Kemudian, untuk pakaian yang di Surabaya, saya sumbangkan ke gereja teman saya (awalnya mau disumbangkan ke rumah sakit melalui teman saya yang dokter, tapi ada orang gerejanya yang minta). 

Sedangkan pakaian yang benar-benar lusuh dan tidak mungkin untuk disumbangkan, saya gunakan untuk bersih-bersih rumah. Untuk pakaian yang benar-benar ternoda sangat berat, saya buang (untungnya hanya sedikit baju yang saya buang). Saya heran mengapa saya masih menyimpan pakaian yang masih kotor meskipun dicuci berulang kali. 

Efek 'Closet Detox'

Hanya ada pakaian yang saya sukai di lemari saya sekarang. Ketika saya membuka lemari pakaian, saya merasa senang karena semua pakaian tersusun rapi. Hal ini sangat memudahkan saya untuk mencari pakaian yang ingin saya pakai. Tidak ada lagi pakaian yang dimasukkan ke lemari secara sembarangan. Semuanya rapi berdasarkan jenis pakaian (atasan sendiri, bawahan sendiri, dst). Pakaian yang dirasa bagus, saya gantung di dalam lemari. Selain itu, dengan memiliki lemari yang rapi, saya mendapatkan kemudahan memasukan pakaian ke dalam koper. Saya juga menggunakan teknik konmari saat hendak traveling. Saya lebih semangat untuk merapikan baju setelah baju saya selesai dicuci dan disetrika.