3 Hari di Luwuk

luwuk - sulawesi tengah, indonesia

Minggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Luwuk, Sulawesi Tengah dalam rangka urusan kerja. Dalam hati saya, saya ngga ingin kesana. Berhubung teman yang seharusnya kesana ternyata hamil, jadi terpaksa saya yang harus kesana. 

Perjalanan dimulai dari Soekarno-Hatta menuju Makassar, kemudian lanjut ke Luwuk. Ketika sampai di Makassar, rombongan kami ingin lapor transit tapi yang terjadi di luar ekspektasi saya, di bandara tersebut nggak ada yang mau antri dengan rapi. Padahal jelas ada garis antrian. 

Setelah lapor transit, kami melanjutkan perjalanan Makassar ke Luwuk yang ditempuh kurang lebih selama satu jam saja. Ketika saya melihat pemandangan dari dalam pesawat, ternyata Luwuk adalah kota yang indah. Sepanjang jalan, saya bisa melihat indahnya laut yang bening dan pantai dengan pasir putih yang bersih.

Bandara di Luwuk saat itu sedang dalam pembangunan, jadi kedatangan dialihkan pada bandara VIP. Ternyata, jumlah penerbangan ke Luwuk dalam sehari bisa tiga kali dan maskapai yang beroperasi ada beberapa. Ini pertanda bahwa Luwuk memiliki potensi yang cukup bagus (dibandingkan dengan penerbangan ke Tobelo yang hanya sehari sekali). 

luwuk di malam hari

Banyak hal yang bisa ditemukan di Luwuk, seperti air terjun, pantai, bukit teletubbies (tapi saya nggak kesampaian untuk kesana semua *sedih banget*). Di Luwuk, juga ada LNG (sebagian besar sahamnya ada pada Pertamina, Mitsubishi, dan saya lupa satu lagi apa). Bisa dibilang kota ini ramai karena LNG tersebut. Teman saya (Mbak Kasma) yang di Luwuk bercerita bahwa bandara di Luwuk dibangun semenjak ada LNG. Kata Mbak Kasma, kalo di Luwuk nggak ada LNG pasti sepi banget. Selain LNG, Luwuk merupakan salah satu pusat penghasil kopra. Kelihatan sih banyak pohon kelapa ketika saya lihat dari dalam pesawat. Mbak Kasma juga bilang bahwa Luwuk di malam hari itu seperti Hongkong. Dari ketinggian, saya bisa melihat pemandangan kota luwuk dihiasi oleh lampu-lampu yang menerangi Luwuk di malam hari. 

Luwuk tidak memiliki makanan khas (atau mungkin ada? Let me know...). Ketika saya di Luwuk, lebih sering makan seafood dengan sambal dabu-dabu dan juga ikan yang dimasak dengan bumbu woku atau dibakar. Karena saya pecinta seafood (atau lebih tepatnya: pecinta makanan Manado), jadi saya nggak ada masalah dengan makanan disini.

Kejadian yang tidak terlupakan selama di Luwuk adalah, ketika saya sedang istirahat di hotel, udah di kamar mandi mau mandi, tiba-tiba listrik mati. Gelap gulita. Saya tidak bisa melihat apa-apa sama sekali. Untungnya sih saya bukan tipe orang yang panikan. Jadi ketika listrik mati, saya cuma diem aja menenangkan diri sambil berdoa semoga tidak ada hal-hal 'aneh' yang terjadi. Hahaha. Untungnya juga, kamar udah dikunci. Dan ketika saya mengintip, ternyata semua listrik emang mati.

Sebenarnya, masih ada beberapa cerita yang lucu di Luwuk tapi bukan untuk konsumsi publik. Hehehe. Saya bersyukur bisa mengunjungi Luwuk dalam waktu yang tidak lama. Jika suatu saat saya berkesempatan lagi kesana, saya ingin mengunjungi air terjun, pantai, dan bukit teletubbies.