Why I Stopped Buying Clothes From These Brands and Start Shopping Wisely

Fashion industry menjadi salah satu penyumbang terbanyak polusi di bumi ini. Mungkin sebagian besar dari kita yang hobi shopping nggak pernah kepikiran apa efek dari barang-barang yang kita pakai. Jika kamu suka makan, pastinya kamu tau istilah fast food kan? Tapi bagaimana dengan istilah fast fashion? Kemungkinan besar kamu nggak familiar dengan istilah ini. Apa sih fast fashion itu? Fast fashion adalah istilah yang digunakan di dunia fashion untuk baju yang sedang ngetren di catwalk (mostly inspired by fashion week) yang kemudian diproduksi dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan koleksi baju desainer. Correct me if I'm wrong about this... 

Produsen terbesar dari fast fashion ini adalah Zara, H&M, Forever21, Topshop, dan masih banyak lagi. Saya juga nggak akan tau akan hal ini kalo nggak nonton film dokumenter di Netflix yang berjudul The True Cost. Nonton film ini bikin saya meneteskan air mata. Setelah nonton film ini, saya jadi paham banget kegelapan di balik glamor-nya dunia fashion. Selain film The True Cost, saya juga mendapat informasi ini dari beberapa artikel di media online, dan juga dari Greepeace. Saya adalah pembaca rutin artikel Greenpeace. 

Banyak sekali dampak negatif dari fast fashion. Mulai dari polusi lingkungan, sampai hilangnya nyawa buruh pabrik dikarenakan lingkungan kerja yang sangat di bawah standar. Jika kamu sudah menonton film The True Cost, kamu bisa melihat kejadian mengerikan yang terjadi di Rana Plaza, Bangladesh yang hancur dan menewaskan kurang lebih seribu seratus orang dan sekitar dua ribu lima ratus orang terluka pada tahun 2013. Rana Plaza adalah tempat produksi baju di Bangladesh untuk beberapa brand terkenal seperti Benetton, Mango, Primark dan Walmart. 

Selain banyaknya orang yang harus menjadi korban dalam industri fast fashion, lingkungan juga terkena dampak negatif dari industri glamor ini. Menurut artikel Greenpeace tentang fast fashion, dibutukan sekitar dua ribu tujuh ratus liter air untuk membuat sebuah t-shirt. Wow.. Belum lagi proses pewarnaan kain yang menghasilkan banyak limbah. Bagimana dengan pakaian yang tidak laku? Hanya seperempat dari total 80 miliar pakaian didaur ulang, sisanya dibakar atau menjadi tumpukan sampah.

Sebelum mengetahui kejelekan fast fashion, ketika membeli baju ya beli-beli aja. Apalagi kalo ada yang menawarkan diskon, kapan lagi beli baju branded dengan harga murah. Saya nggak pernah pikir panjang ketika membeli baju. Siapa sih yang ngga suka terlihat memakai pakaian baru? Apalagi dengan harga murah, kamu bisa aja memakai baju baru setiap minggu, bahkan setiap hari. Apalagi di era booming-nya fashion bloggers, pastinya mereka nggak mau terlihat memakai baju yang sama setiap kali tampil.

I bought this shirt at Zara before I knew about fast fashion. And it's made in Bangladesh! Oh no... 

I bought this shirt at Zara before I knew about fast fashion. And it's made in Bangladesh! Oh no... 

Trus apa sih solusi yang bisa kita lakukan? Banyak kok, yang penting harus dimulai dari diri sendiri. Komitmen awal itu penting banget. Kamu nggak harus join komunitas cinta lingkungan atau semacamnya untuk memberikan dampak yang baik untuk lingkungan. Banyak kok orang yang join komunitas yang katanya cinta lingkungan tapi cuma buat gaya-gayaan, padahal kenyataannya masih buang sampah sembarangan, make listrik seenaknya, dan membeli baju seenaknya. Mungkin orang-orang tersebut masih belum memiliki komitmen yang tinggi untuk mencintai lingkungan. Kamu bisa memulai dari dirimu sendiri. Ketika kamu ingin membeli pakaian, pikir berulang kali dengan apa yang akan kamu beli. Apakah kamu akan memakai pakaian itu berulang kali? Apakah baju itu bisa bertahan lama? Kamu nggak harus mengikuti tren untuk dibilang gaul. Banyak cara positif lainnya untuk lebih gaul kok. Jika kamu berpikir bahwa mendonasikan sebagian besar bajumu yang tidak terpakai bisa mengurangi sampah, ternyata hal itu nggak semuanya benar lho. Ternyata baju-baju yang kamu donasikan tidak semuanya dipakai dan berakhir di tumpukan sampah. Mendingan kamu daur ulang baju-baju mu, be creative! Kalo ada baju yang sobek tapi masih pantas untuk dipakai, kamu bisa menjahit bajumu yang sobek. 

Masih suka shopping pakaian tapi nggak mau lingkunganmu tercemar atau nggak mau memakai baju yang pekerjanya dibayar rendah? Pilih brand yang ber-cap 'fair trade'. Label fair trade memiliki arti bahwa brand tersebut memberikan pembayaran yang adil kepada pekerja, memberikan kondisi tempat kerja yang layak, dan yang pastinya menjaga lingkungan. 

Saya menonton The True Cost tanggal 26 Juni 2016, berarti sudah sekitar tiga bulan. Semenjak saya menonton film itu, saya udah jarang banget membeli baju. Terkahir kali saya membeli baju untuk diri saya sendiri adalah tanggal 28 September 2016 itupun karena saya tiba-tiba datang bulan dan bawahan yang saya gunakan adalah warna putih. Kebayang kan betapa nggak nyamannya memakai putih ketika datang bulan. Sebelum saya menonton film ini, saya termasuk orang yang suka banget shopping pakaian. Pokoknya beli dulu deh, meskipun ternyata nggak dipake. Bisa hemat banyak ternyata hehehe. Buat kamu yang ngerasa nggak punya baju buat dipake, coba cek dulu lemari kamu. 

Masih nggak punya baju untuk dipake?

 

 

featured image by: ferbena.com